WUJUDKAN FUNGSI REKREASI PERPUSTAKAAN UNTUK ANAK**

 

Oleh

Ighfirlina Yaumil Akhda, S.IIP*

Perpustakaan memiliki banyak fungsi, tidak hanya sebagai tempat penyimpanan bahan koleksi, fungsi edukatif namun juga memiliki fungsi rekreasi. Fungsi rekreasi yang dimaksudkan disini adalah menyediakan koleksi rekreatif yang dapat me-refresh pikiran pengguna atau mengembangkan kreativitas dan minat pengguna perpustakaan. Fungsi rekreasi perpustakaan ini masih belum dipahami oleh masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat memandang bahwa rekreasi hanya pergi ke tempat-tempat wisata ataupun mall, padahal mereka dapat juga menjadikan perpustakaan sebagai pilihan tempat untuk rekreasi.

Perpustakaan dapat dijadikan alternative tempat rekreasi yang berbeda dari biasanya, orang tua dapat mengajak anak mereka ke perpustakaan untuk bermain dan mengembangkan kreativitas mereka. Perpustakaan dalam dan luar negeri telah mengembangkan layanan perpustakaan khusus untuk anak.  Beberapa perpustakaan umum di Indonesia telah menyediakan layanan perpustakaan untuk anak. Pada layanan khusus anak ini  biasanya menyediakan koleksi buku cerita dan pengetahuan, permainan edukasi dan pada akhir pekan menyelenggarakan panggung hiburan seperti salah satu contohnya yaitu panggung story telling. Layanan perpustakaan anak dirancang khusus untuk membuat anak nyaman berada di perpustakaan, maka layanan perpustakaan anak didesain semenarik mungkin dan segala perlengkapan di sesuaikan dengan anak-anak sehingga anak tidak akan merasa bosan ketika berada di Perpustakaan. Desain ruang perpustakaan yang menarik dan nyaman akan membuat anak merasa berada di tempat hiburan bermain.

Perpustakaan yang memiliki fungsi rekreasi jika dikembangkan secara maksimal dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk membiasakan anak dengan perpustakaan.Perpustakaan dapat dikembangkan sesuai dengan sifat dasar anak yaitu suka bermain dan bersenang-senang. Anak sebagai penerus bangsa tentu saja harus dibiasakan dengan kegiatan positif seperti salah satunya dibiasakan untuk berkunjung ke perpustakaan. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai solusi mengatasi fenomena yang terjadi saat ini yaitu kecanduan anak dalam menggunakan gadget. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa penggunaan gadget lebih banyak membawa dampak negatif daripada manfaat bagi anak.  Dampat negatif yang dimunculkan yaitu salah satunya terhadap psikologi anak, seperti menurunkan wawasan dan kecerdasan pada anak.

Pembiasaan anak terhadap perpustakaan juga dapat menjadi suatu solusi atas permasalahan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Hasil survey Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 64 dalam hal kemampuan membaca dari 65 negara yang mengikuti. Indonesia mendapatkan skor 396 dari skor standar OECD  yaitu 493.

Sifat dasar anak yaitu memiliki rasa penasaran yang tinggi akan menggugah si anak untuk mengeksplorasi apa saja yang terdapat di Perpustakaan. Perpustakaan yang penuh dengan koleksi buku bacaan akan membiasakan anak untuk membaca koleksi tersebut. Lalu akan muncul suatu kebiasan positif pada anak yaitu membaca. Anak sejak kecil perlu dikenalkan tentang membaca karna akan sangat mudah membentuk suatu kebiasaan positif sejak dini. Dengan begitu Indonesia tanpa perlu lagi khawatir tentang massalah minat baca yang rendah.

Perpustakaan di Indonesia telah menyadari bahwa perpustakaan memiliki peran yang penting untuk perkembangan anak, seperti salah satu contoh yaitu perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Ruang layanan anak terletak di lantai tujuh gedung PNRI ini menyediakan buku teks lengkap tentang anak seperti ensiklopedi, buku dongeng dan buku bertema agama. Ruang layanan anak ini bertambah menarik dengan gambar-gambar mural yang mengisakan tentang cerita dongeng dan fabel di Indonesia. PNRI menyediakan layanan untuk anak secara gratis hal ini merupakan salah satu kelebihan layanan perpustakaan anak di PNRI, karena sebagian besar layanan perpustakaan anak dibeberapa kota dikenakan biaya kunjungan.

Fungsi rekreasi perpustakaan juga dapat terwujud dengan cara kolaborasi antara perpustakaan dengan beberapa tempat yang sering dijadikan sebagai tujuan wisata. Salah satu contoh kolabrosi tersebut misalnya menghadirkan perpustakaan di tempat-tempat wisata umum seperti di mall,  ruang tunggu bioskop ataupun tempat makan yang sering dijadikan pilihan rekreasi pada akhir pekan. Negara luar telah banyak yang melakukan kolaborasi perpustakaan dengan tempat-tempat hiburan, seperti menghadirkan perpustakaan di taman bermain. Salah satunya di kota Dely, California. Departemen perpustakaan berkolaborasi dengan taman hiburan yang terdapat dikota tersebut. Bahkan pemerintah setempat mendirikan departemen baru yaitu Library and Recreation.

Kolaborasi perpustakaan dan taman bermain merupakan suatu ide menarik karena keduanya merupakan ruang publik bagi masyarakat. Tempat berkumpul dan tempat positif untuk menghabiskan akhir pekan. Saat berkunjung ke taman bermain tujuan kita tidak hanya mencari keramaian dan makanan namun juga dapat menambah hal positif lain yaitu mengisi pikiran yang kosong dengan pengetahuan baru dari koleksi buku di perpustakaan. Taman juga merupakan tempat yang sangat akrab dengan anak-anak. Jika kolaborasi ini terwujud di Indonesia maka akan merubah stigma lama perpustakaan yaitu perpustakaan bukan lagi tempat yang gelap dan menyeramkan.

Dengan melakukan re-desain perpustakaan yaitu salah satunya menghadirkan perpustakaan di tempat-tempat wisata dapat mewujudkan fungsi rekreatif perpustakaan. Selain itu juga mengenalkan kepada masyarakat umum bahwa berkunjung ke perpustakaan dapat dijadikan pilihan tempat rekreasi yang bermanfaat di akhir pekan bersama anak mereka. Lantas apakah kamu akan memilih perpustakaan sebagai tujuan wisata akhir pekan ini?

 

*Tenaga Pengelola Perpustakaan UPT Perpustakaan Universitas Jember

** Artikel ini telah dimuat di Surat Kabar Harian Wawasan Semarang Edisi Jumat 12 Oktober 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*