BIMBINGAN TEKNIS PENGELOLA PERPUSTAKAAN SEKOLAH, PESANTREN DAN DESA/KELURAHAN KABUPATEN BONDOWOSO: UPAYA TINGKATKAN MINAT BACA

Rabu (17/10), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso menggelar Bimbingan Teknis  bagi tenaga pengelola perpustakaan sekolah, pondok pesantren dan desa/keluarahan. Pada kegiatan ini, beberapa pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Jember turut berpartisipasi sebagai Pemateri salah satunya yaitu pimpinan UPT Perpustakaan, Ida Widiastuti, S.Sos., M.I.Kom. Beliau memamparkan materi tentang Strategi Peningkatan Minat Baca dalam Mewujudkan Reading and Learning Society. Seperti yang diketahui bahwa minat baca masyarakat di Indonesia menjadi suatu permasalahan yang gencar diperbincangkan setelah hasil study menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara dalam World Most Literate Nations. Penelitian yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University tersebut menilai berdasarkan banyak variabel jumlah perpustakaan, Koran, sistem pendidikan (input/output) dan ketersediaan computer.

Kepala UPT Perpustakaan Universitas Jember selaku pembicara juga mengatakan bahwa Indonesia dapat mengadaptasi beberapa kebiasaaan yang dilakukan oleh negara yang menempati urutan teratas dalam hasil study tersebut.

“Beberapa negara dapat kita jadikan contoh seperti finlandia yang menempati posisi teratas dalam hasil study tersebut, atau negara lainnya yang memiliki habit membaca seperti jepang dan amerika serikat”, paparnya.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat dimulai dari lingkungan internal yaitu keluarga. Faktor lingkungan keluarga berperan penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca kepada anak. Di Finlandia, anak telah diperkenalkan sejak dini dengan buku seperti salah satunya yaitu maternity package diberikan kepada orang tua yang baru memiliki  bayi dan didalamnya terdapat buku bacaan untuk bayi. Fenomena yang terjadi saat ini anak dibiasakan dengan gadget. Orang tua memilih cara instan untuk meredam rengekan anak dengan memberikan gadget yang belum sesuai dengan usia mereka. Orang tua sebagai guru pertama bagi anak yaitu membentuk kebiasaan anak terhadap kegiatan membaca. Wujud nyata yang dapat dilakukan oleh orang tua sebagai lingkungan internal seperti  menyediakan bahan bacaan yang baik atau membacakan cerita untuk anak. Para Orang tua di Finlandia memiliki kebiasaan membacakan dongeng/cerita kepada anak sebelum mereka tidur. Dongeng atau cerita dapat membentuk karakter dan memperkenalkan anak dengan berbagai karakter yang terdapat pada dongeng. Kultur membacakan dongeng kepada anak dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan minat baca di lingkungan keluarga.

Kebiasaan membaca juga didukung dari pihak eksternal yaitu memaksimalkan fungsi sarana umum untuk kegiatan membaca. Perpustakaan sebagai salah satu sarana umum yang menyediakan sumber referensi berperan penting dalam mengembangkan minat baca. Di Finlandia sendiri terdapat banyak perpustakaan di setiap sudut kotanya, bahkan beberapa tempat umum seperti museum, kantor polisi menyediakan tempat bagi anak untuk membaca dengan dilengkapi peralatan menulis, menggambar dan mewarnai. Finlandia menerbitkan banyak stok buku dari masing-masing rentang usia sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak membaca. Tidak hanya menyediakan koleksi buku,  perpustakaan yang nyaman dan ramah dapat menarik pemustaka untuk berkunjung. Kepala UPT Perpustakaan Universitas Jember ini juga menjelaskan bahwa perpustakaan perlu melakukan pembenahan dalam hal desain interior sehingga pemustaka merasa betah berada di perpustakaan.

“Salah satu  yang dapat dilakukan untuk membuat perpustakaan cozy (nyaman) dengan melakukan pengecatan dinding sekreatif mungkin sehingga pemustaka betah, seperti memilih warna cat yang cerah atau me-desain ruangan lesehan dengan menyediakan karpet, itu tidak perlu mengeluarkan dana yang  banyak. Untuk memperindah ruangan juga bisa meletakkan tanaman di dalam ruang perpustakaan” paparnya.

Ketersediaan toko buku sebagai sarana umum bagi masyarkat untuk memenuhi buku bacaan mereka juga memiliki peranan yang penting. Jepang sebagai salah satu negara yang memiliki kebiasaan membaca tinggi memiliki banyak toko buku. Jumlah toko buku di jepang sama dengan toko buku di AS yang memiliki luas wilayah 26 kali lebih luas dan penduduk lebih banyak dari jepang. Ida Widiastuti mengatakan bahwa masyarakat jepang memiliki budaya Tachiyomi.

“Tachiyomi adalah sebuah kegiatan membaca gratisan yang dilakukan sambil berdiri ketika sedang berada di toko buku. Toko buku di jepang memang sengaja membuka segel plastik agar orang dapat melakukan kegiatan ini,” jelasnya.

Faktor eksternal lainnya yaitu dari bidang hiburan yang juga memiliki peranan penting dalam memberikan tontonan cerdas bagi masyarakat. Beberapa station TV di Indonesia  menampilkan program-program asing dengan melakukan alih suara atau dubbing sudah menjadi hal biasa. Namun di Finlandia, mereka lebih memilih mencantumkan teks terjemahan dengan tujuan untuk meningkatkan kebiasaan membaca pada anak dan juga melatih mereka membaca dengan cepat.  Hal tersebut juga dapat membiasakan anak mengetahui pronounciation dalam  bahasa inggris.

Program acara TV juga dapat mendukung kegiatan membaca dengan memberikan referensi buku bacaan terbaru yang akan dibeli. Seperti salah satu acara Toko Buku “Sekiguchi” di TV Jepang. Acara ini hampir serupa dengan promosi produk alat rumah tangga yang sering ditayangkan di TV , penonton dapat melihat beberapa macam refrensi buku dan juga dapat memesan buku secara online melalui internet atau telepon. Promosi tersebut dapat diterapkan oleh penerbit buku di Indonesia untuk memberitahukan terkait buku-buku terbaru dan juga sebagai upaya meningkatkan penjualan buku.

Di Indonesia sendiri beberapa upaya untuk meningkatkan minat baca telah dilakukan oleh Pemerintah. Beberapa program seperti program gerakan literasi yang mewajibkan siswa membaca 15 menit sebelum kelas dimulai. Program lainnya yaitu pengiriman buku gratis tanggal 17 setiap bulannya. Program ini diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada saat pertemuan antara Joko Widodo dengan pegiat literasi yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Salah satu tujuan program ini untuk menyebarkan buku ke pelosok negeri.

Indonesia sebagai negara yang berada di peringkat ke 60 dari 61 negara dapat melakukan adaptasi dan inovasi  dari program atau kebiasaan yang telah dilakukan oleh negara-negara dengan peringkat teratas dalam hal minat baca. Peran serta dari lingkungan  internal dan eksternal dapat mempermudah berjalannya program yang telah digagas sehingga menghasilkan output yang diinginkan yaitu peningkatan minat baca dan literasi masyarakat. Peserta Bimbingan Teknis yang merupakan pengelola perpustakaan diharapkan dapat memahami materi yang telah disampaikan dan melakukan inovasi dalam hal perbaikan perpustakaan sehingga intensitas kunjungan pemustaka tinggi dan mereka merasa nyaman berada di perpustakaan. Hal tersebut juga merupakan suatu upaya sederhana untuk membiasakan siswa  dengan buku dan kegiatan membaca. Ida Widiastuti selaku pembicara juga memberikan saran kepada panitia untuk mengadakan pelatihan kepada kepala sekolah atau pemangku kebijakan terkait peranan penting perpustakaan sebagai upaya peningkatan minat baca masyarakat.

“pengelola perpustakaan dapat melaksanakan tugas mereka secara maksimal jika mendapatkan dukungan dari pemangku kebijakan seperti kepala sekolah. karena seringkali pemangku kebijakan meremehkan pentingnya perpustakaan itu sendiri,” tuturnya. (igh)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*