UPAYA PERPUSTAKAAN TETAP EKSIS DI ERA DISRUPSI TEKNOLOGI

Istilah disrupsi teknologi menjadi popular saat ini, banyak artikel-artikel dan forum-forum ilmiah membicarakan terkait istilah ini. Pada salah satu tulisan Prof. Rhenald Kasali yang dimuat oleh harian kompas online menjelaskan bahwa disrupsi teknologi merupakan suatu era dimana terjadi perubahan yang sangat mendasar pada setiap lapisan kehidupan masyarakat, hal tersebut terjadi dikarenakan perkembangan luar biasa dalam bidang teknologi.  Setiap aktifitas dan kegiatan baik perorangan, instansi, lembaga atau perusahaan mengandalkan teknologi guna mempersingkat waktu dan memudahkan pekerjaan.

Hal yang dapat dilihat pada era disrupsi teknologi yaitu kemudahan dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Masyarakat saat ini  dapat langsung menggunakan gadget mereka dan melakukan pencarian informasi yang dibutuhkan, lalu dalam sekejap mata informasi tersebut muncul dalam layar gadget. Berbagai search engine yang tersedia saat ini seperti salah satunya google mampu menjawab segala pernyataan yang dibutuhkan masyarakat untuk keperluan kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara memasak, resep masakan bahkan pembelian produk untuk memasak yang dijual oleh e-commers telah tersedia dalam satu alat yaitu gadget. Karakteristik masyarakat kini yaitu menginginkan segala hal didapatkan dengan mudah, cepat dan efisien, serupa dengan sifat dari teknologi itu sendiri yaitu smart, fast, efficient, sustainable.

Bahkan melihat fenomena dan karakteristik masyarakat di era kini, perkembangan teknologi juga terjadi pada bidang penerbitan buku. Beberapa bisnis penerbitan menyediakan buku dan jurnal dalam bentuk elektronik, hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan antara kebutuhan dan karakteristik masyarakat saat ini dan juga menghadapi persaingan agar tidak tergerus dalam era disrupsi teknologi. Beberapa perusahaan Koran dan majalah juga menyediakan aplikasi khusus yang meneydiakan Koran dan majalah elektronik untuk masyarakat agar dapat membaca secara nyaman dimanapun dan kapanpun.

Hal yang tersedia di era disrupsi teknologi juga memunculkan dua mata pisau bagi masyarakat yaitu dibalik kemudahan juga memunculkan suatu masalah tersendiri. Kemudahan dalam melakukan pencarian informasi dari berbagai sumber informasi yang disediakan oleh search engine, masih perlu dipertanyakan relevansi dari suatu informasi. Ribuan bahkan jutaan bit bit informasi yang tersedia tidak dapat dipastikan apakah berasal dari sumber terpercaya atau hanya hoax semata. Seperti yang diketahui bahwa fenomena hox sedang gencar terjadi di era kini.

Perkembangan dalam bidang penerbitan yang menyediakan produk buku elektronik juga menimbulkan suatu tantangan tersendiri yaitu dalam hal preservasi dokumen elektronik dan hak cipta. Buku elektronik memerlukan suatu perawatan agar dapat terus diakses oleh pengguna. Hal yang terjadi saat ini seringkali preservasi buku elektronik terabaikan karena telah terlena dengan kecanggihan dari teknologi itu sendiri, padahal suatu benda dengan bentuk elektronik juga mengalami keusangan apabila tidak dilakukan perawatan yang sesuai. Perkembangan teknologi yang terus gencar akan memunculkan suatu format-format dokumen digital  dengan versi terbaru dalam hal akses buku elektronik. Apabila suatu format digital tidak terus diperbaruhi, maka akan menjadi suatu akhir bagi dokumen digital itu sendiri. Buku elektronik yang termasuk salah satu dari dokumen digital tidak akan dapat diakses kembali jika format digitalnya telah usang. Selain pembaharuan pada format digital, juga pada storage yang digunakan untuk menyimpan dokumen digital tersebut. Upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan preservasi digital dan meningkatkan kemampuan tenaga pengelola dokumen digital.

Fenomena yang terjadi pada era disrupsi menuntut setiap lini masyarakat untuk mengikuti perkembangan, karena jika tidak, maka hanya akan tergerus perubahan zaman. Begitupun perpustakaan yang merupakan tempat sumber informasi dituntut untuk berinovasi dengan mengikuti karakteristik pemustaka yang telah mengalami perubahan gaya hidup. Pemustaka lebih menginginkan informasi yang mudah didapat dan fleksibel. Mereka terkadang menghabiskan waktu berjam-jam di café  untuk menikmati WIFI gratis dengan hanya membeli secangkir kopi atau milkshake. Bahkan di perpustakaan sendiri ruangan yang banyak diminati oleh pemustaka yaitu spot dengan akses wifi yang lancar.

Beberapa perpustakaan telah berupaya unttuk menyediakan layanan yang disesuaikan dengan karakteristik pemustaka saat ini. Layanan buku dan jurnal elektronik yang dilanggan dari penerbit global disediakan guna mempermudah pemustaka untuk melakukan pencarian referensi penelitian mereka. Bahkan beberapa koleksi tugas akhir dan hasil penelitian civitas akademika dapat diakses di repository institusi perguruan tinggi sehingga pemustaka dapat mengakses dimanapun tanpa terbatas oleh waktu.

Perpustakaan juga telah menyediakan bebrapa spot untuk melakukan akses pencarian informasi secara digital dengan disertai jaringan wifi gratis. Saat ini sedang populer layanan co-worksing space di area perpustakaan. Implementasi co-working space di perpustakaan yaitu dengan menyediakan ruangan/tempat yang nyaman bagi pemustaka dengan disertai jaringan internet yang lancar. Keberadaan co-working space dapat menjawab tantangan yang terjadi di era disrupsi. Apabila perpustakaan belum mampu menyediakan peralatan teknologi yang canggih, namun setidaknya cara sederhana yang dapat dilakukan yaitu  menyediakan ruangan yang nyaman dan jaringan internet bagi para pemustaka dalam melakukan pencarian informasi digital.  Dengan begitu perpustakaan akan tetap eksis tidak tergerus perkembangan era disrupsi teknologi. (igh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*