PUSTAKAWAN: DARI PERIODE KE PERIODE

Pada tahun 1990 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menetapkan tangal 7 Juli sebagai Hari Pustakawan Nasional. Pada kesempatan ini, bertepatan dengan hari pustakawan mari kita sedikit mengulik kembali sejarah keberadaan pustakawan dalam dunia perpustakaan.

Awal mula kegiatan untuk mengolah dan menyimpan catatan akun dimulai dari Sumeria. Pada jaman dulu bangsa sumeria memerintahkan pegawai mereka untuk mencatat pengeluaran biaya dan menyimpan catatan rekening sebagai tanda buktinya. Mereka pada jaman itu disebut Masters of The Books atau Keepers of the Tablets. Kemudian pada abad ke-8 sebelum masehi Ashurbanipal seorang Raja Asyur mendirikan sebuah perpustakaan di istananya di Niniwe, Mesopotamia. Ashurbanipal adalah individu pertama yang memperkenalkan kepustakawanan sebagai sebuah profesi. Pada jaman itu profesi kepustakawanan memiliki tugas sebagai penajaga buku dan mengawasi ribuan tablet termasuk teks sastra, sejarah, linguistic dan kamus. Semua tablet ini di catalog dan disusun dalam urutan berdasarkan subjek atau jenis yang diberi tanda pengenal.

Pada tahun 323 SM setelah kematian Alexander Agung, Ptolemy I membangun sebuah perpustakaan yang dikenal dengan The Great Library of Alexandria. Perpustakaan tersebut menampung seluruh literature Yunani, dan kemudian pada perpustakaan ini memunculkan beberapa pustakawan terkenal seperti Demetrius, Zenodotus, Eratosthenes, Apollonius, Aristophanes, Aristarchus dan Callimachus. Para pustakawan ini merupakan cendekiawan dalam perkembangan perpustakaan karena berkontribusi secara signifikan dalam ilmu perpustakaan. Salah satunya Callimachus menciptakan sebuah catalog subjek pertama yang disebut pinakes. Pina yang dibuat oleh Callimachus berisi 120 gulungan yang disusun menjadi sepuluh kelas subjek, setiap kelas kemudian dibagi daftar penulis berdasarkan abjad judul.

Pada periode Renaissance, peran pustakawan menjadi penting seiring dengan meningkatnya jumlah perpustakaan. Hal tersebut dikarenakan selama periode Renaissance para aristokrat begitu antusias terhadap perpustakaan sehingga banyak dibangun perpustakaan pribadi di Eropa oleh tokoh-tokoh seperti seperti Petrach dan Boccaccio. Pada periode ini peran pustakawan tidak hanya sebagai penjaga buku namun lebih dari itu yaitu merencanakan dan mengatur perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan publik.

Pada abad ke 17 para akademisi dan pustakawan terkenal menciptakan  gagasan Bibliotheca Universalis. Gabriel Naude salah satu tokoh yang berkontribusi pada gagasan ini yaitu tentang organisasi dan administrasi koleksi perpustakaan yang mengarah pada pengembangan koleksi perpustakaan. Tokoh lainnya yaitu John Dury mengemukakan teori “The Reformed Librarie-Keeper” yang berisi tentang peran dan standar pustakawan yang berpendidikan.

Pada abad ke 19, profesi pustakawan berkembang begitu juga dengan standar profesional yang diberlakukan dengan menggunakan pendekatan gagasan Bibliotheca Universalis. Pustakawan bertanggung jawab memilih buku yang tepat untuk digunakan oleh pengguna. Kemudian pada tahun 1900 dibangun sekolah perpustakaan diantaranya Albany, Pratt Institute, Drexel University dan The Armour Institute. Pada tahun 1919 mulai dibuka jurusan Librray Science di beberapa universitas AS dan  berkembang di berbagai negara. Semenjak banyak didirikannya sekolah-sekolah atau universitas menjadikan pustakawan sebagai profesi yang memiliki kompetensi dan keilmuan di bidangnya.

Pada jaman saat ini perkembangan ilmu perpustakaan terus meingkat, dibuktikan dengan  beragamnya pendekatan keilmuan tentang perpustakaan. Universitas di berbagai  negara terus mengembangkan keilmuan perpustakaan dalam upaya menelurkan lulusan mahasiswa yang nantinya akan menjadi seorang pustakawan berkompetensi dan professional.

Di Indonesia sendiri saat ini perkembangan profesi pustakawan mengalami peningkatan dimana terdapat lebih dari 30 universitas membuka jurusan ilmu perpustakaan. Jurusan ilmu perpustakaan di beberapa universitas di Indonesia memiliki pendekatan keilmuan yang berbeda, mulai dari pendekatan bidang sosial budaya atau  cultural studies, manajemen perpustakaan serta berkaitan dengan teknologi informasi. Beragamnya pendekatan keilmuan yang digunakan untuk mengkaji ilmu perpustakaan diharapkan kedepannya dapat mengembangkan profesi pustakawan serta memberikan sumbangsih terhadap perkembangan perpustakaan. (igh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*